pengobatan toxoplasma pada kehamilan

Pengobatan Toxoplasma Pada Kehamilan

Toksoplasmosis atau toxoplasma adalah penyakit atau infeksi yang berasal dari jasad renik atau parasit Toxoplasma gondii (T.gondii) yang keberadaanya cukup umum di dunia. Sedangkan Torch adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus gabungan yaitu Toxoplasma gondii, Rubella, Cyto Megalo Virus, dan Herpes Simplex Virus. Lalu apa saja pengobatan toxoplasma pada kehamilan?

pengobatan toxoplasma pada kehamilan

Apa saja penyebab, binatang pembawa, ciri, dan gejala ibu hamil mengalami virus toxoplasma? Lalu apa efek negatif, pencegahan, dan pengobatan virus ini?

Mari simak ulasan mengenai pengobatan toxoplasma pada kehamilan di bawah ini.

Pembawa Toxoplasma dan Torch ini adalah makanan dan hewan disekitar anda seperti kucing, anjing, ayam, burung, merpati, kambing, dan lainnya. Dalam dunia medis, toxoplasma sering disebut dengan virus kucing. Meskipun penyakit Toxo sebenarnya dibawa dalam darah, nama virus kucing ini cukup memiliki alasan.

Walaupun begitu, cukup sulit untuk menentukan ciri ciri toxoplasma pada kucing dan apakah kucing memiliki virus toxoplasma atau tidak. Hal ini dikarenakan memang tidak ada cirri-ciri khusus kucing terkena toxoplasma. Namun anda tidak perlu khawatir, toxoplasma tidak bisa ditularkan hanya dengan membelai kucing atau memelihara kucing. Menurut banyak penelitian, virus Toxo ini 70% berasal dari kotoran dari kucing yang terinfeksi.

pengobatan toxoplasma pada kehamilan

Orang dewasa yang sehat mungkin tidak memerlukan perawatan medis apapun untuk sembuh dari toxoplasma. Jika parasit menyerang orang dewasa, biasanya kekebalan tubuh akan dengan mudah menangkal infeksi yang ditimbulkan dari parasit ini. Biasanya orang yang terjangkit toxsoplasmosis tidak menunjukan gejala-gejala tertentu. Sekali terinfeksi, orang tersebut akan mengalami kekebalan pada toxoplasma seumur hidup. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan gangguan toxoplasma bisa menjadi penyakit serius, salah satunya masa kehamilan.

Toksoplasmosis sebenarnya hanya menyerang janin yang belum lahir pada awal kehamilan atau beberapa minggu sebelum kehamilan. Jika bayi yang belum lahir mengalami toksoplasmosis, bayi dikatakan mengalami toksoplasmosis bawaan. Sebenarnya, kerusakan yang disebabkan oleh infeksi tergantung kapan kehamilan anda terinfeksi. Jika anda terkena toxoplasma untuk pertama kalinya pada masa kehamilan, itu berarti janin dan bayi dalam kandungan anda juga akan terinfeksi.

Namun, rata-rata hanya 4 dari 10 kasus infeksi yang diteruskan ke bayi. Ciri-ciri terkena toxoplasma saat hamil biasanya seperti gejala flu. Kemudian, terperangkap pada tubuh ibu hamil, toxsoplasma akan menyebabkan infeksi pada jantung dan paru-paru, pembengkakan hati, ginjal, kelenjar getah bening, munculnya gejala penyakit kuning, dan kulit memerah pada bayi yang dilahirkan.

Bahkan jika gejala terkena virus torch pada ibu hamil tidak segera ditangani, ini dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, dan toksoplasmosis congenital yang menyebabkan kerusakan otak, pendengaran, dan penglihatan pada bayi setalah beberapa bulan atau tahun kelahiran.

Toxoplasma juga dapat menyebabkan bayi mengalami hydrocephalus atau pembesaran kepala, encephalus atau tidak memiliki tulang tengkorak, mengalami gangguan saraf yang menyebabkan keterbelakangan mental, gangguan sistemik seperti pucat dan demam, dan kebutaan. Begitulah gejala toxoplasma pada ibu hamil.

Sebaiknya ibu hamil mengnsontasikan ke dokter fetomaternal yaitu dokter ahli yang menangani kelainan janin dan deteksi risiko kehamilan tinggi jika ibu menduga dirinya mengalami toxoplasma. Saat ibu hamil diduga mengidap toxoplasma, dokter biasanya akan melakukan uji laboratorium terhadap sampel darah mereka.

Setelah pemeriksaan, ibu hamil akan mendapatkan besaran hasil normal yaitu Ig G positif dan ig M negatif. Jika infeksi diatas normal, ibu hamil berate positif mengidap toxoplasma. Terdapat interpretasi hasil laboratorium. Bila IgG dan IgM menunjukan adanya infeksi primer, pengobatan toxoplasma pada kehamilan dan evaluasi harus dilakukan pada ibu dan janinnya. Bila IgM positif dan igG negatif, hal ini berarti adanya infeksi baru. Bila IgG positif dan IgM negatif, hal ini berarti ibu hamil telah terinfeksi sejak setahun yang lalu.

Saat ini mungkin kekebalan tubuh telah meningkat terhadap infeksi tersebut sehingga tidak perlu khawatir dalam kehamilan. Jika dinyatakan positif, dokter biasanya akan meresepkan antibiotic yang dapat menurunkan risiko perpindahan bakteri dari tubuh ibu ke janinnya. Kemudian, untuk mendeteksi keberadaan toxoplasma pada janin dalam kandungan, dokter biasanya akan melakukan pengujian terhadap cairan ketuban. Perkembangan fisik janinpun akan diperiksa dengan alat USG.

Sebaiknya pengobatan toxoplasma pada kehamilan dilakukan sejak dini pada awal tahap kehamilan untuk menurunkan risiko janin terinfeksi. Jika hasil laboratorium menunjukan bahwa bayi mengalami toxoplasma, biasanya bayi harus melakukan pengobatan dengan antibiotic selama 1 tahun.

Pemeriksaan pada organ penglihatan dan pendengaranpun akan dilakukan untuk memeriksa fungsi kerjanya. Terdapat beberapa obat yang seringkali diberikan oleh dokter pada pasien toxoplasma dalam masa kehamilan.

Berapa lama penyembuhan toxoplasma?

Dokter biasanya menyarankan terapi pengobatan toxoplasma pada kehamilan hingga proses kelahiran dengan obat Sulfadiazine dan Pyrimethamin. Namun, obat ini tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena dapat memberikan efek teratogenik yang berbahaya bagi janin. Obat yang dapat dibeli si apotek ini juga dapat menyebabkan alergi jika ibu hamil tidak cocok.

Pyrimethamin juga dapat menyebabkan kekurangan darah sehingga penggunaannya harus dikombinasikan dengan leucovorin. Kedua obat ini dapat menembus sawar otak. Sulfadiazine dan Pyrimethamin berguna untuk menghambat sintesa asam folat yang diperlukan untuk replikasi tubuh parasit. Kombinasi dari kedua obat ini dapat membunuh parasit toxoplasma dan menyembuhkan hingga 80% pasien.

Umumnya, pengobatan biasanya dilakukan selama 10 hari dan dosis minum tiga kali sehari. Susunan pengobatan yang paling mutakhir adalah pemberian piri metamin dengan dosis awal 50-75mg perhari. Ditambah pemberian Silfadiazine dengan dosis 4-6 gram dalam dosis terbagi 4. Selain itu, diberikan juga kalsium folinat dengan dosis 10-15mg perhari selama 6 minggu.

Dokter juga biasanya akan meresepkan Spiramisin. Spiramisin adalah antibiotic golongan makrolid yang aman untuk ibu hamil dengan toxoplasma. Antibiotik lainnya yang dapat mengobati ibu dengan toxoplasma adalah Clarithromycin, Azithromycin, dan Clindamycin.

Pemberian Azithromycin adalah untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi Toxoplasma. Namun, salah satu antibiotic yaitu clindamycin dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Dokter juga sering memberi resep jenis obat toxoplasma berupa imunostimulan yang dapat menstimulasi imun tubuh yang dapat memeberikan efek protekstif dari bakteri dan pathogen berbahaya.

Sebenarnya, beberapa penelitian menunjukan bahwa walaupun pengobatan toxoplasma tidak akan mengembalikan kerusakan, pengobatan ini dapat menurunkan risiko anak mengalami gangguan lainnya menginjak remaja atau dewasa. Selain itu, sebaiknya pengobatan ini disertai dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara rutin.

Terdapat beberapa tips mencegah toxoplasma pada ibu hamil. Ibu hamil diwajibkan untuk mengonsumsi daging yang sudah matang yang tidak ada bekas darah atau masih berwarna merah muda. Jangan konsumsi daging yang masih mentah atau setangah matang seperti ham Parma.

Ibu hamil juga perlu mencuci tangan dan perkakas setelah memasak daging. Hal ini dikarenakan daging mentah atau daging mentah yang dibakar mudah terinfeksi toxoplasma. Kemudian, toxoplasma juga mudah menginfeksi sayuran dan buah yang tidak dicuci. Oleh karena itu, cucilah semua bahan sayuran dan buah sebelum dimasak untuk membersihkannya dari kotoran dan tanah.

Selain itu, jangan membersihkan dan bahkan memegang kotoran kucing dan tanah yang terkontaminasi oleh kotoran kucing. nAnda harus memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tagan sesudahnya. Hindari juga berkebun di tanah yang sudah terkontaminasi kotoran kucing.

Jika anda memiliki kucing, sebaiknya anda menggunakan sarung tangan karet saat membersihkannya atau suruh orang lain untuk melakukan ini. Intinya adalah menjaga kebersihan. Anda juga perlu mengindari susu kambing dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Demikianlah ulasan mengenai pengobatan toxoplasma pada kehamilan. Di Indonesia, toxoplasma atau toksoplasmosis digolongkan menjadi salah satu penyakit tular vector dan binatanglah yang membawa penyakit ini. Sesuai dengan Pasal 11 PerMenKes No.82 tahun 2014, untuk mencegah penularan infeksi toxoplasma pada janin, wanita dan pria harus memeriksakan kondisinya ke dokter bagi mereka yang memiliki tanda-tanda kehamilan dan memiliki hewan peliharaan.

No Responses

Write a response